Virus Nn-Ach dan (Aplikasi) Proyeksi Ekonomi Kita …

Medan Bisnis, 19 09 2015
Medan Bisnis, 19 09 2015

Rabu pekan lalu, Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan paket kebijakan ekonomi tahap pertama. Dalam paket kebijakan ini, tercatat ada tiga langkah penting yang harus dilakukan. Pertama; mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi, debirokratisasi serta penegakan hukum dan kepastian usaha. Kedua; mempercepat proyeksi strategi nasional dengan menghilangkan berbagai hambatan dalam pelaksanaan dan penyelesaian proyek strategi nasional. Ketiga; meningkatkan investasi di sektor property.

Tiga langkah tersebut kemudian dirincikan kedalam sepuluh poin. Pertama; penguatan pembiayaan ekspor melalui National Interest Account. Kedua; penetapan harga gas untuk industri tertentu di dalam negeri. Ketiga; kebijakan pengembangan kawasan industri. Keempat; kebijakan memperkuat fungsi ekonomi koperasi. Kelima; kebijakan simplikasi perizinan perdagangan. Keenam; kebijakan simplifikasi visa kunjungan dan aturan pariwisata. Ketujuh; kebijakan elpiji untuk nelayan. Kedelapan; stabilitas harga komuditi pangan khususnya daging sapi. Kesembilan; melindungi masyarakat berpendapatan rendah dan menggerakan ekonomi pedesaan seperti; percepatan pencairan dana desa serta menggarahkan penggunaan dana desa. Kesepuluh; pemberian Beras Miskin (Raskin) atau Beras Kesejahteraan (Rasta) untuk bulan ke-13 dan ke-14.

Dari kesepuluh rincian poin tersebut, terdapat empat poin yang secara langsung menyentuh kepentingan rakyat miskin, yakni; menjaga stabilitas harga komuditi pangan khususnya daging sapi, mempercepat pencairan dana desa dan pembangunan desa, kemudian pemberian beras miskin serta kebijakan elpiji untuk nelayan. Empat poin ini menjadi kebijakan yang dianggap tepat untuk merangsang pertumbuhan ekonomi dalam jaga pendek dan dapat membantu mengcover kebutuhan rakyat miskin pada saat krisis ekonomi seperti ini.

Sedangkan enam kriteria lainnya dapat dikatagorikan sebagai kebijakan ekonomi makro yang membutuhkan kerja jangka panjang dan dampaknya tidak dapat dirasakan langsung oleh rakyat banyak. Begitupun, keseluruhan isi dari paket kebijakan pemerintahan ini patut untuk diapresiasi di tengah arus kerisis ekonomi yang semakin dilematis.

Nah, kini, paket kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah ini tinggal menunggu aplikasinya saja di lapangan. Apakah dapat berjalan secara maksimal atau malah menjadi belunder yang malah dapat membahayakan perekonomian nasional.

Deregulasi, cukupkah?  

Pembangunan selama ini memang cenderung menggunakan pendekatan pertumbuhan ekonomi. Sebab keberhasilan pembangunan di satu negara selalu saja ditandai dengan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut. Konon katanya, dalam sebuah kajian ekonomi, setiap  satu persen pertumbuhan ekonomi akan dapat membuka 2.000 lebih lapangan pekerjaan. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini, satu persen pertumbuhan ekonomi kita mampu menyerap 400.000 tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi inilah yang kemudian harus diciptakan kembali oleh pemerintah di tengah arus PHK yang begitu massif di industri kita saat ini.

Karena itu, melakukan stimulus terhadap industri dengan memberikan kebijakan deregulasi dan debirokratisasi adalah bagian dari usaha agar dapat terus menjaga kondusifitas roda industri, dan hal ini mendapatkan aspirasi pengusaha dengan berjanji akan all out membantu pemerintah memacu geraka ekonomi yang melambat.

Namun apakah hal tersebut cukup? Tentu saja tidak, jika tidak dibarengi dengan kebijkan-kebijkan yang bersifat hilir seperti mengeluarkan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana dari kementerian terkait. Hal ini yang sebenarnya bersifat mendesak untuk dilakukan dan butuh semangat serta motivasi ekstra untuk melakukan tugas berat ini.

Virus n-Ach

David Mc-Clelland seorang ahli psikologi sosial dalam bukunya The Achievement Motif in Ekonomic Growth, mengatakan bahwa perubahan sosial pada tingkat makro (masyarakat) ditentukan oleh perubahan pada tingkat mikro (individu) seperti perubahan dalam cara berpikir dan bersikap yang menyangkut norma dan sistem nilai. Norma dan nilai hidup ini yang menjadi pembeda antara masyarakat tradisional dan masyarkat modern. Satu diantara beberapa nilai dan norma yang berlaku bagi masyarakat modern adalah berorientasi pada masa depan dan tidak berorientasi pada masa lalu.

Pada titik inilah dibutuhkan motivasi untuk berprestasi. Motivasi inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk mengeksplotasi peluang untuk meraih kesempatan. Motivasi inilah yang kemudian disebut dengan need for Achievement atau yang dikenal dengan istilah n-Ach. n-Ach di sini diartikan sebagai nafsu untuk bekerja secara baik dengan mengesampingkan pengakuan sosial atau gengsi. Tetapi lebih kepada dorongan berkerja demi memuaskan batin dari dalam diri. Bagi mereka yang mempunyai dorongan n-Ach yang tinggi akan bekerja lebih keras dan lebih giat tanpa diikuti oleh motiv dan iming-iming apapun.

Nah kini, kita patut bertanya, seberapa besar “virus n-Ach” yang dimiliki oleh pejebatan negara, pengusaha dan masyarakat kita untuk dapat mengatasi krisis ekonomi ini secara bersama-sama? Sebab jika motivasi dan semangat untuk mengatasi persoalan ini rendah atau sama sekali tidak ada, maka jangan pernah berharap perbaikan ekonomi dari paket kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah dapat menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Semangat dari “virus n-Ach” inilah yang sekarang sesungguhnya sedang kita perlukan. Jika langkah untuk pemulihan ekonomi semakin lama terwujud, maka persoalan yang akan dihadapi semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi di atas 5% harus segera genjot untuk dapat menurunkan angka pengangguran. Ratusan ribu orang akan bekerja dan memiliki penghasilan, dengan demikian roda ekonomi secara mikro akan berjalan normal kembali. Konsumsi masyarakat akan mengingkat dan gairah pasar –dengan banyaknya permintaan barang dan jasa –akan kembali terjadi.

Jika ini terjadi maka pajak dari dunia industri dan usaha lainnya dapat dihimpun secara maksimal. Sebab, penghimpunan pajak hingga 31 Agustus 2015 terbilang cukup rendah yakni hanya  terealisir Rp 592,57 triliun atau sekitar 45,76% dari target sebesar Rp 1.249,7 triliun. Jika penerimaan pajak gagal terdongkrak menjelang tutup tahun, maka pemerintah akan mendapat pekerjaan tambahan yakni mencari utangan baru untuk menambal kekurangan dana APBN. Menambah utang, berarti menambah beban negara di masa yang akan datang (Medan Bisnis; Sabtu, 12/09/2015).

Penutup

Sejak masa lalu kita memang selalu terjebak dengan pola hutung setiap kali krisis ekonomi terjadi. Hal ini terus-terusan menjadi beban negara dan pemerintah yang ada. Untuk itu, kini, kita butuh semangat kerja keras dan kerja cerdas dengan mempercepat semua proses regulasi yang diperlukan. Namun begitupun, jangan sampai keinginan untuk melakukan deregulasi dan debirokratisasi terjebak pada kepentingan pengusaha saja dengan memberikan kebebasan yang akhirnya dapat menerobos semua peraturan yang ada.

Untuk itu sekali lagi, “virus n-Ach” harus segera dikembangkan di dalam diri setiap pejabat negara. Jangan sampai, paket kebijakan yang telah dikeluarkan hanya menjadi rekomendasi semu yang tidak bisa diaplikasikan di lapangan. Dan pada saat inilah kabinet kerja yang dibentuk oleh Presiden Jokowi harus menunjukkan kinerjanya secara nyata. Bukankah itu yang selama ini kita tunggu?

Diterbitkan Pertama Kali di Harian Medan Bisnis,

Sabtu, 19 September 2015

Link; http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/09/19/187481/virus-n-ach-dan-aplikasi-proyeksi-ekonomi-indonesia/#.Vf0_sEeUc-A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s