CCTV di Masjid Kita …

007 - Cctv di Masjid Kita
Harian Waspada Medan, Rabu 07 Okt 2015

Apa yang anda pikirkan ketika membaca judul di atas? Atau menurut anda, apakah keberadaan CCTV di setiap masjid kita hari ini dapat dikatagorikan sebagai hal yang wajar? Pertanyaan ini penting untuk kita jawab, sebab belakangan hari, kita sering melihat beberapa masjid yang sudah memasang CCTV di setiap sudut bangunannya.

Apakah hal tersebut salah atau melanggar aturan keagamaan? Tentu saja tidak, sebab hal ini tidak masuk dalam perdebatan benar atau salah. Namun, hal ini menjadi satu fenomena yang menarik untuk dibahas –khususnya dalam prespektif ilmu sosial –karena trend penggunaan CCTV yang semakin meningkat, tidak hanya untuk dunia usaha atau perkantoran tetapi juga untuk rumah ibadah.

Kehadiran CCTV

Arus perkembangan teknologi memang tidak bisa dibendung sejak revolusi industri terjadi beberapa dekade silam di Eropa. Ribuan jenis barang teknologi kini telah dikonsumsi oleh manusia dan digunakan untuk berbagai macam keperluan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam hal ini CCTV (Closed-Circuit-Television).

Kehadiran CCTV tentunya memberikan banyak manfaat, diantaranya adalah; hasil rekamannya dapat menjadi bukti tindakan kejahatan atau kriminal. Mengawasi situasi lalu lintas, halte bus dan atau terminal. Mengawasi kinerja karyawan dan terakhir dapat mencegah aksi kejahatan. Point terakhir ini sebenarnya menjadi point penting kehadiran CCTV di tengah masyarakat, khususnya  bagi meraka yang berada wilayah di perkotaan.

Aksi kejahatan seperti perampokan, pencurian, pembunuhan dan lain sebagainya sering terjadi di wilayah ini (baca; kota). Itu sebabnya banyak orang yang tinggal di wilayah perkotaan sengaja memasang alat ini untuk dapat memproteksi diri dari tindakan kejahatan. Apalagi banyak mereka yang percaya bahwa CCTV dapat mengerem aksi kejahatan. Alasannya senderhana, dengan adanya CCTV banyak pelaku kejahatan akan berpikir ulang untuk melakukan aksinya. Namun benarkah? Saya juga tidak tahu pasti, sebab mereka (para penjahat) mempunyai logika tersendiri ketika melakukan aksi kejahatannya. Apalagi jika menyangkut kebutuhan hidup, semua pasti tidak terpikirkan lagi.

Nah, jika ini menjadi satu keniscayaan, maka kita dapat berasumsi bahwa; semakin banyak CCTV beredar, atau terpasang di satu wilayah, maka wilayah tersebut dapat dikatagorikan sebagai wilayah yang tidak aman atau memiliki tingkat kriminalitas yang tinggi (termasuk di dalamnya pelanggran lalulintas). Asumsi ini boleh benar adanya, apalagi dengan fakta hasil rekaman CCTV dapat membantu proses pencarian pelaku kejahatan. Begitupun, untuk membuktikan asumsi tersebut –secara ilmiah –kita masih harus melakukan penelitian yang mendalam.

Realitas Aksi Kejahatan

Jika kehadiran CCTV sering dikaitkan dengan aksi kejahatan seperti perampokan, dan pencurian, maka kita juga berkewajiban untuk mengaitkan kedua hal ini dengan sumber pendorong awalnya yaitu kemiskinan. Dalam banyak kajian, kemiskinan sangat erat kaitannya dengan tindak kejahatan. Fukuyama dalam bukunya Goncangan Besar; Kodrat Manusia dan Tata Sosial Baru, memasukkan kemiskinan sebagai salah penyumbang terjadinya guncangan sosial di tengah masyarakat.

Tidak hanya Fukuyama, George Mayer tahun 1835-1861 di Bremen, Jerman, yang melakukan analisis statistic menyatakan terdapat korelasi antara kenaikan tingkat kejahatan dengan kenaikan harga kebutuhan bahan pokok. Dari hasil analisisnya terdapat kesimpulan bahwa; tingkat kejahatan berhubungan erat dengan tingkat kesenjangan sosial-ekonomi. Makin tinggi tingkat kesenjangan sosial-ekonomi, maka makin tinggi pula tingkat kejahatannya.

Begitupun, kita tidak bisa melakukan generalisasi terhadap semua orang miskin sebab tidak semua orang miskin adalah orang yang melakukan tindak kejahatan. Hanya saja, kondisi kemiskinan sering menjadi faktor pendorong bagi setiap individu untuk melakukan aksi kesejahatan. Hal ini dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Selain faktor kemiskinan, pengaruh narkotika juga sangat erat memicu tindak kejahatan. Efek ketergantungan yang dihasilkan dari narkotika membuat individu penikmatnya rela melakukan apapun –seperti perampokan dan pencurian –demi mendapatkan barang haram tersebut.

Dari hal ini tampak bahwa kemiskinan dan narkotika menjadi rekalitas aksi kejahatan yang menyebabkan pertumbuhan CCTV meningkat tanjam wilayah perkotaan, khususnya di perkantoran dan bahkan di rumah-rumah peribadahan seperti masjid.

Hilangnya Rasionalitas

Aksi kejahatan memang tidak pernah mengedepankan rasionalitas. Itu sebabnya, banyak pelaku kejahatan yang melakukan aksinya di manapun. Rumusannya sederhana; di mana ada kesempatan, di situ aksi kejahatan akan dilaksanakan. Bahkan tidak menutup kemungkinan aksi tersebut dilakukan di rumah ibadah yang notabene sering dianggap sebagai rumah tuhan. Di sini, tuhan-pun sudah dialfakan. Bagi mereka, mungkin saja, tuhan dimasukkan dalam katagori “maha pemaklum” yang akan sangat paham dengan kondisi umatnya yang sedang mengalami kesusahan.

Itu sebabnya kita sering menemukan kejadian pencurian di masjid-masjid. Mulai dari sepeda motor, kotak infak, tas jama’ah hingga sepatu-sandal. Aksi ini berlangsung singkat, baik ketika ibadah sedang dilaksanakan atau ketika ibadah baru usai. Dari aksi-aksi kejahatan inilah kita harusnya sadar bahwa telah terjadi ketimpagan yang nyata di dalam satu umat beragama. Ironisnya, aksi yang disebabkan ketimpangan –sosial-ekonomi –itu malah terekam dengan jelas di dalam CCTV yang memang sengaja kita pajang disetiap sudut yang dianggap menjadi tempat aksi kejahatan.

Padahal jika ditelusuri lebih mendalam, secara subtantif kita sebagai umat beragama memiliki tanggung jawab yang sama untuk dapat mengentaskan persoalan kemiskinan yang sedang diderita oleh saudara kita sesama muslim. Lucunya kita tidak pernah sadar dengan hal ini. Kita malah lebih sering disibukkan dengan proyek renovasi masjid yang memakan biaya ratusan juta rupiah. Padahal tidak jauh dari lokasi masjid tersebut kita akan menemukan sekeluarga fakir-miskin yang masih memerlukan bantuan hidup.

Anda banyangkan saja, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pembelian dan pemasangan CCTV di setiap bangunan masjid? Anggaran itu belum termasuk biaya perawatan yang meski dilakukan setidaknya setahun sekali. Andai saja, biaya itu diperuntukkan bagi mereka orang-orang fakir dan miskin tentu akan terasa jauh lebih bermanfaat dan kita secara tidak langsung sudah dapat membantu mengatasi persaolan kebutuhan hidup mereka tanpa mereka harus meminta-minta dijalanan, mencuri dan lain sebagainya.

Penutup

CCTV memang menjadi satu fenomena “baru” di tengah kehidupan masyarakat modern di negara-negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Namun, kehadiran CCTV di rumah ibadah seperti masjid harusnya bisa dilihat sebagai suatu hal yang mengkawatirkan. Sebab lazimnya, di rumah-rumah ibadah individu-individu harusnya tidak lagi melakukan aksi kejahatan seperti pencurian dan perampokan. Meski pada kenyataan fakta malah menunjukan hal yang berlawanan.

Oleh karenannya wajar jika para pelaku kejahatan di dalam rumah-rumah ibadah seperti masjid kehilangan rasionalitasnya dan mengalfakan tuhan ketika melakukan aksi kejahatan, sebab orang-orang yang sedang melakukan kegiatan ibadah-pun sudah kehilangan rasionalitas keimanannya. Setidaknya hal ini menjadi bukti bahwa kita sudah menjadi bagian dari orang-orang yang mendustakan agama. Bukankah Surat Al-Maun dengan jelas telah menyatakan itu?

Tulisan ini pertamakali Diterbitkan di Harian Waspada Medan

Rabu, 07 Oktober 2015 Halaman B6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s