Menyongsong Pembangunan Global Berbasis SDGs

Tidak terasa, agenda tujuan pembangunan milenium yang terangkum dalam Millenium Development Goals (MDGs) dalam waktu dekat akan segera usia. Selama lima belas tahun –sejak September tahun 2000 sampai 2015 –sebanyak 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa menjalankan program tersebut dengan target utamanya adalah tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada tahun 2015.

Target tersebut kemudian dijabarkan dalam delapan butir tujuan pembangunan yaitu; pertama, menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, dengan target utama adalah mengurangi sampai setengah jumlah penduduk dunia yang hidup dengan penghasilan kurang dari satu dollar perhari dan mengurangi sampai setengah jumlah penduduk yang kelaparan. Kedua, mewujudkan pendidikan dasar bagi semua dengan menjamin agar semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan jenjang pendidikan dasar.

Poin ketiga, mendorong kesetaraan jender dan memberdayakan perempuan dengan cara menghapus ketidaksetaraan jender dalam jenjang pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005, dan di semua tingkatan pendidikan pada tahun 2015. Keempat, mengurangi tingkat kematian anak dengan indikator keberhasilan mengurangi dua pertiga dari angka tingkat kematian anak di bawah usia lima tahun. Kelima, meningkatkan kehatan ibu dengan indikator pencapaian mengurangi tiga perempat dari angka tingkat kematian ibu, terkhusus akibat melahirkan.

Selanjutnya poin Keenam, memerangi HIV/AIDs, malaria dan penyakit lainnya dengan cara menghentikan dan mengurangi laju penyebaran penyakit menular tersebut. Ketujuh, menjamin kelestarian lingkungan, dengan meningkatkan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan dan program tingkat nasional, mengurangi perusakan sumber daya alam. Mengurangi sampai setngah jumlah penduduk yang tidak memiliki akses kepada air bersih yang layak minum dan berhasil meningkatkan kehidupan setidaknya 100 juta penghuni kawasan kumuh pada tahun 2020. Terakhir poin kedelapan adalah mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Delpan poin pembangunan millennium memiliki beberapa indikator keberhasilan di dalamnya. Di mana dari beberapa indikator tersebut, ada yang berhasil dicapai ada juga yang belum berhasil dicapai oleh pemerintah atau dengan istilah lain dapat dikatakan harus mendapatkan perhatian khusus. Hal ini didasarkan pada draf laporan singkat pencapai tujuan pembangunan millennium di Indonesia tahun 2014 yang di dalamnya tercatat ada 14 indikator telah tercapai, 36 indikator menunjukkan kemajuan signifikan dan 13 indikator yang masih diperlukan kerja keras untuk dapat tercapai.

Indikator Yang Belum Tercapai

Adapun 13 indikator yang belum dapat tercapai dan membutuhkan kerja keras untuk mewujudkannya adalah; pertama, persentase penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan nasional. Kedua, proporsi penduduk dengan asupan kalori di bawah tingkat konsumsi minimum. Ketiga; angka kematian Balita per 1000 kelahiran hidup. Keempat; angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup. Kelima; angka kematian ibu per 100,000 kelahiran hidup.

Keenam; Prevalensi HIV/AIDs (persen) dari total populasi 0,46 persen pada tahun 2014. Ketujuh; proporsi jumlah penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDs. Kedelapan; Rasio luas kawasan tertutup pepohonan berdasarkan hasil pemotretan citra satelit dan survey foto udara terhadap luas daratan. Kesembilan; Jumlah emisi karbon dioksida (CO2). Kesepuluh; Rasio luas kawasan lindung untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati kawasan hutan. Kesebelas; Proporsi rumah tangga kumuh perkotaan. Keduabelas; Proporsi penduduk yang memiliki jaringan PSTN (Kepadatan Fasilitas Telepon per Jumlah Penduduk). Ketigabelas; Proporsi rumh tangga dengan akses internet.

Tiga belas indikator inilah yang menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk dapat diselesaikan pada akhir tahun 2015 sebelum masuk pada model pembangunan global berbasiskan Subtaineble Development Goals (SDGs). Di mana SDGs akan menggantikan program dari MDGs setelah berjalan selama lima belas tahun.

SDGs

Isu pembangunan global pasca MDGs memang sudah dibahas sejak tahun 2012 lalu pada KTT Rio+20 yang menghasilkan dokumen “The Future We Want”. Pada dokument inilah SDGs dicantumkan berserta arahan tentang pentingnnya tiga dimensi pembangunan berkelanjutan yaitu; Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup yang harus bersinergi dalam pembangunan global ke depan.

Berdasarkan dokument tersebut maka SDGs harus memenuhi empat prinsip yaitu; Pertama; tidak melemahkan komitment internasional terhadap pencapaian MDGs. Kedua; mempertimbangkan kondisi, kapasitas dan prioritas masing-masing negara. Ketiga; Fokus pada pencapaian ketiga dimensi pembangunan berkelanjutan (pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan). Terakhir koheren dan terintegritas dengan pembangunan pasca 2015.

Selain itu, hal mendasar yang membedakan antara MDGs dan SDGs adalah pembangunan yang terangkum dalam SDGs jauh lebih luas dibandingkan dengan program pembangunan yang ada di dalam MDGs. Di mana di dalam SDGs tertera 12 illustrative goals yang memuat sejumlah isu baru seperti; pengadaan lapangan kerja yang layak, ketahanan energy, pangan dan gizi. Air dan sanitasi, good government dan institusi yang efektif, rule of law, masyarakat yang stabil dan damai, global enabling environment dan catalyze long term finace.

Sedangakan untuk kasus kehutan akan tetap mendapatkan perhatian yang lebih. Terkhusus pada SDGs ini persoalan tentang luas tutupan hutan telah tercantum pada tujuan atau poin kesembilan dengan istilah Manage Natula Resources Assests Sustainably. Pada poin inilah pemerintah harus serius khususnya dalam model perencanaan pembangunan yang dapat diarahkan pada usaha pembangunan keberlanjutan (Subtaineble Development) dengan mengedepankan semangat pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkunngan.

Namun ironisnya, usaha pemerintah untuk melakukan pembangunan yang berkelanjutan dengan tetap melakukan perlindungan lingkungan dinilai sama sekali tidak tampak. Kasus kebakaran hutan di sumatera dan Kalimantan yang menimbulkan asap tebal hampir di setengah wilayah indonesia menjadi bukti akan hal tersebut. Apalagi nawacita yang selama ini menjadi agenda prioritas pembangunan ternyata sama sekali tidak mencantumkan persoalan perlindungan lingkungan. Padahal kabut asap, banjir dan tanah longsor adalah persoalan tahunan yang muncul dari akibat dekradasi lingkungan dan kita tidak pernah memperhatikan hal tersebut.

Penutup

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebutkan, jumlah luas kebakaran hutan tahun ini mencapai 2.089,911 hektar. Angka tersebut diperolah melalui perhitungan yang dilakukan sejak 21 Juni – 20 Oktober 2015. Data ini sesungguhnya menjadi bukti nyata bahwa kita sudah kehilangan ribuan hektar lahan terbuka hijau yang tentunya dapat berdampak pada kondisi alam dan juga kondisi generasi mendatang?

Diterbitkan Pertamakali di Harian Medan Bisnis

Kamis, 05 November 2015

Link;

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2015/11/05/196596/menyongsong-pembangunan-global-berbasis-sdgs/#.VjuWcUeUc-A

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s