Medan (Menuju) Kota Tyranopolis

Pada tahap ini kota dilanda oleh kepincangan berupa degenerasi dan korupsi. Moral penduduk kota hilang, terdapat hubungan yang erat antara kekuatan politik, ekonomi dan kriminalitas.

***

Studi tentang perkotaan memang tidak pernah berhenti untuk diperbincangkan bahkan kini semakin menarik untuk dikaji di tengah banyak persoalan-persoalan baru yang dihadapi oleh perkotaan dari tahun ketahun. Persoalan tersebut muncul dari ketidaksigapan aparatur pemerintahan kota dalam merencanakan pengembangan dan pembangunan kota. Itu sebabnya mengapa semakin berkembang satu kota maka semakin banyak persoalan yang dihadapi kota tersebut.

Persoalan-persaolan tersebut selalu saja terkait satu sama lain. Urbanisasi, kemiskinan, sektor informal, kriminalitas dan degradasi lingkungan adalah persoalan-persoalan utama yang dihadapi oleh kota. Tingginya laju urbanisasi diperkotaan membuat beban kota semakin tinggi.  Banyangkan pada tahun 2025 Bank Dunia memprediksi sebanyak 68 persen populasi Indonesia bakal memadati wilayah perkotaan jika gelombang urbanisasi tidak bisa dikendalikan.

Secara spesifik dalam laporan yang bertajuk East Asia’s Changing Urban Landscape: Measuring a Decade of a Spatial Growth, Bank Dunia menunjukkan tingkat urbanisasi di Indonesia termasuk yang tertinggi di Asia, dengan rata-rata pertumbuhan 4,4 persen per tahun sejak 1960 hingga 2013. Berikutnya diikuti oleh Tiongkok, Filipina, dan India, dengan pertumbuhan kaum urban masing-masing per tahun 3,6 persen, 3,4 persen dan 3 persen.

Ironisnya hal tersebut tidak diikuti dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Dampak yang timbul kemudian adalah munculnya pengaguran dalam jumlah besar di perkotaan. Apakah hal ini menjadi ancama bagi kota? Tentu saja ya. Sebab dalam banyak kasus semakin tinggi angka pengaguran di satu perkotaan akan berkolerasi secara positif dengan tingkat kriminalitas dan pelacuran.

Di sisi lain, tidak tersedianya lapangan pekerajaan membuat banyak kaum urban yang ada di perkota memilih menjadi pekerja di sektor informal dengan mendirikan lokasi dagang kaki lima di ruas jalan perkotaan. Penyempitan jalan menjadi tidak terelakkan, sedangkan laju pertumbuhan kendaraan terus meningkat mengikuti laju deret ukur. Kemacetan menjadi hal yang tak dapat dihindari lagi setiap waktu.

Selain itu, urbanisasi juga berdampak pada degradasi lingkungan. Ketersedian tempat tinggal yang layak bagi kaum urban menjadi titik persoalan utama atas degradasi lingkungan ini. Kota selalu dibanyangi dengan pemukiman kumuh di balik mewahnya apartment dan gedung-gedung pencakar langit. Pemukiman itu hadir di pinggiran rel kerata api dan bantaran sungai yang tentu berefek pada penyempitan luas sungai.

Belum lagi produksi sampah yang semakin meningkat seiring dengan laju konsumsi dan pertumbuhan masyarakat perkotaan. Parahnya sampah tidak dikelola secara maksimal oleh pemerintah dan terkesan hanya mengandalkan sistem kumpul-angkut-buang dari rumah tangga-TPS ke TPA. Sistem ini-pun tidak sepenuhnya berhasil menangani permasalahan sampah. Tercatat hanya sekitar 85 persen sampah-sampah yang mampu untuk dianggkut ke TPA. Sisanya, sekitar 15 persen diserap oleh bank sampah, pemulung dan sungai.

Fenomena lain yang juga sedang menghantui perkotaan adalah tumbuhnya pemukiman dengan model komplek perumahan bagi masyarakat menengah atas. Kemunculan komplek perumahan ini tidak jarang berada di wilayah yang seharusnya menjadi daerah resapan air. Selain itu, kemunculan kompleks perumahan ini juga tidak diikuti dengan analisis yang jelas terkait penyedian dan kapasitas drainase. Hal ini yang kemudian manjadi faktor utama penyebab munculnya banjir di perkotaan.

Kondisi inilah yang sesungguhnya sedang dihadapi masyarakat medan dalam interkasi kehidupan sosial sehari-hari dan seakan tidak dapat lagi diatasi secara maksimal oleh pemerintah kota. Jika ini terus diabaikan maka tidak menutup kemungkinan medan akan menjadi kota yang tyranopolis.

Kota Tyranopolis

Lewis Mumford dalam buku The Culture of Cities (1983) menyimpulkan adanya enam tahapan dalam sejarah perkembangan kota, mulai dari berdirinya sampai runtuhnya. Tahap pertama neopolis yaitu kota menjadi pusat daerah pertanian dengan adat istiadat bercorak pedesaan dan sangat serderhana. Tahap kedua adalah polis yaitu tahap di mana kota menjadi pusat kehidupan keagamaan dan pemerintahan. Di kota ini terdapat tempat-tempat khusus untuk peribadatan, perdagangan, industri kecil, lembaga pendidikan dan sarana olahraga serta tempat hiburan. Bentuk kota ini menyerupai benteng seperti kota-kota pada zaman kejayaan romawi kuno.

Tahapa ketiga yaitu kota metropolis yang ditandai dengan banyaknya bertemu orang-orang dari berbagai bangsa untuk kepentingan bisnis. Di kota ini juga terjadi perkawinan antar antara ras dan bangsa akibat adanya kepercayaan baru. Namun yang paling menonjol dari kota dengan model metropolis ini adalah ketimpangan antara kelompok kaya dan miskin yang tampak semakin jelas.

Tahap keempat adalah kota dengan model megapolis, kota ini ditandai dengan semakin tingginya gejolak sosiopatologis. Ketimpangan sosial yang tinggi menjadi ciri utamanya. Pengusaha, birokrasi dan elit politik semakin merajalela dengan kekuasaannya. Di sini lain, kemiskinan semakin meluas yang ditandai dengan aksi perlawanan seperti demonstarasi yang terus terjadi.

Tahap kelima yaitu tahap tyranopolis. Pada tahap ini kota dilanda oleh kepincangan berupa degenerasi dan korupsi. Moral penduduk kota hilang, terdapat hubungan yang erat antara kekuatan politik, ekonomi dan kriminalitas. Pelayanan umum kacau dan terkesan dapat dibeli. Selain itu, orang-orang kelas bawah menjadi satu kekuatan baru yang tidak dapat diremehkan. Dan tahapan terakhir adalah necropolis yaitu tahap di mana peradaban kota runtuh. Kota telah menjadi bangkai seperti Babylonia, Nineve dan Roma Kono.

Kondisi Kota Medan

Konstruksi Kota Medan yang digambarkan sebagai kota metropolitan dalam beberapa tahun ini setidaknya memang sudah terlihat jelas dengan pembagunan gedung-gedung pencakar langit yang terus berlangsung dan diikuti dengan ketimpangan penduduk –antara kelompok kaya dan miskin yang semakin terlihat jelas –diperkotaan. Tidak hanya itu, jika diamati secara mendalam kondisi sesungguhnya Kota Medan sudah dapat dimasukkan kedalam katagori kota tyranopolis.

Ungkapan ini bukan tanpa alasan yang jelas. Fakta menunjukkan dalam satu bulan ini saja telah terjadi dua penembakan di Kota Medan yang dilakukan oleh warga sipil terhadap masyarakat biasa. Belum lagi hampir setiap minggu kita membaca laporan berita terkait aksi begal motor di jalan raya yang memakan korban.

Kasus korupsi apalagi. Dua mantan Walikota Medan dan satu Wakil Walikota Medan pernah dipenjarakan karena kasus korupsi. Pada tahun ini kasus tersebut masih juga terjadi dengan terlibatnya mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dan lima Pimpinan DPRD Sumut priode 2009-2014 yang sebagian besarnya adalah warga Kota Medan. Ini menjadi satu bukti bahwa moral warga kota semakin merosot.

Di sisi lain, hubungan kekuasaan politik –birokrasi dan elit pejabat –bersama kekuatan ekonomi –pebisnis dan pengusaha –selalu saja berlaku sewenang-wenang terhadap masyarakat miskin kota. Masyarakat miskin selalu menjadi korban penggusuran atas nama pembangunan. Belakang perlawan warga terhadap penggusuran mulai marak dan selalu memicu konflik sosial seperti kasus penggusuran di jalan timah dan penggusuran pedagang di jalan veteran adalah bukti perlawanan yang sangat nyata, di luar kasus perlawanan atas penggusuran masjid.

Akhirnya pertanyaan kemudian muncul, benarkah ini fenomena umum yang biasa? Atau jangan-jangan ini adalah gambaran atas fakta dari perkembangan kota yang sedang menuju tahap kehancuran? Pertanyaan inilah yang penting untuk dijawab oleh pemerintah Kota Medan dengan menyususn perencanaan pembangunan kota yang berkelanjutan, arif dan bermatabat. Bukankah kita butuh kenyamanan hidup sebagai warga kota?

Pertamakali Diterbitkan di Harian Waspada Medan

Jum’at 11 Des 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s