Air Wudu dan Politik Pembangunan

Air adalah satu element penting bagi kehidupan makhluk di dunia terkhusus bagi manusia. Pentingnya air bagi kehidupan manusia dapat dilihat dari perannya pada keselurahan aspek kehidupan, tidak hanya untuk kepentingan biologis dan keseahatan tetapi juga untuk kepentingan sosial, budaya, ekonomi, politik dan agama. Untuk aspek biologis dan kesehatan tubuh manusia membutuhkan asupan air 8 sampai 10 gelas –atau sekitar dua liter –air untuk dapat berfungsi secara maksimal dan terhindar dari dehidrasi. Begitupun asupan air yang berlebihan juga dapat menyebabkan hiponatremia bagi tubuh yaitu kondisi ketika natrium dalam darah menjadi terlalu encer.

Pada aspek ekonomi, kebutuhan manusia akan asupan air membuat beberapa perusahaan tertarik untuk mengelola sumber daya air menjadi air minum yang layak konsumsi bagi manusia dan bahkan banyak juga yang kemudian dikelola menjadi air minum ber-ion yang memiliki fungsi kesehatan bagi tumbuh. Bisnis air minum ini kemudian mengalami perkembangan yang cukup pesat bahkan pada skal mikro ditandai dengan berkembanganya usaha isi ulang air galon hampir di seluruh wilayah perkotaan di Indonesia.

Manariknya, kemunculan peradaban satu kota juga terkait erat dengan aliran air –sungai –yang mengintari kota tersebut. Katakan saja semisal Mesopotamia yang muncul sebagai peradaban kota pertama, posisi geografisnya tepat berada di antara dua sungai; Tigris dan Euphrates. Tidak hanya itu peradaban Mesir kuno juga bergantung pada Sungai Nil. Kemudahan pada akses  perairan ini ternyata membawa dampak yang positif bagi perkembangan kota. Beberapa kota di dunia seperti London, Paris, NewYork City, Rotterdam, Shanghai dan Tokyo mendapatkan kemakmuran dan kejayaan dikarenakan kemudahan dalam mengakses perairan sebagai jalur dagang dan transportasi.

Sedangkan dalam tatanan politik –kebijakan –dan kesejahteraan, ketersedian sumber air bersiah dan layak minum dijadikan satu indikator keberhasilan pembangunan. Hal ini bisa dilihat dari indikator pembangunan mellenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Dalam MDGs diterangkan bahwa salah satu indikator keberhasilan pembangunan ditentukan oleh kemudahan akses masyarakat –baik desa dan kota –dalam memperoleh fasilitas air bersih dan layak minum.

Namun ironisnya, laporan MDGs Indonesia pada tahun 2014 menunjukkan bahwa usaha pemerintah Indonesia dalam memenuhi atau menyediakan sumber air bersih dan layak minum bagi masyarakat dianggap belum sepenuhnya berhasil. Laporan tersebut menunjukkaan akses masyarakat desa terhadap sumber air bersih masih membutuhkan perhatian serius sebab hingga triwulan pertama tahun 2014, pemerintah hanya dapat mencapai 56,09 persen akses air bersih terhadap masyarakat desa dari target MDGs sebesar 65,81 persen.

Air Wudu Kita

Dalam pandangan agama khususnya Islam, ada dua jenis air yaitu air muthlaq dan air najis. Air muthlaq biasanya disebut dengan istilah air thohur yaitu air suci dan mensucikan. Dikatakan suci kerena air ini tidak mengalami perubahan atau tetap pada kondisi asalanya. Air jenis ini biasanya adalah air yang keluar dari perut bumi –seperti air sungai, sumur dan laut –serta air yang turun dari langit seperti air hujan, embun dan air salju.

Namun jika air tersebut dibiarkan lama atau bercampur dengan benda yang suci lainnya dan kemudian mengalami perubahan –dari unsur warna, rasa atau baunya –maka air tersebut tidak dapat lagi disebut sebagai air muthlaq tetapi sudah menjadi air yang najis. Air najis dapat diartikan sebagai air yang telah mengalami perubahan dari hukum asal (suci).

Karena sudah mengalami perubahan pada unsur warna, rasa dan baunya maka air muthlaq tidak dapat lagi dijadikan sebagai air  wudu. Perubahan air mutlaq yang tidak dapat digunanakan sebagai air wudu inilah yang kemudian menjadi persoalan kita. Sebab dalam beberapa kasus tidak jarang kita dapat menemui di beberapa masjid atau musola yang air muthlaq (baca; air wudu) mengalami perubahan pada tiga usur tersebut.

Berubahnya ketiga unsur tersebut tentu dipengaruhi banyak faktor di antaranya karat yang muncul dari tong-tong penampungan atau lumut-lumut dan jentik-jentik yang tumbuh pada bak-bak penampungan air. Hal ini tidak dapat dihindari sebab selama ini hampir seluruh masjid mengalami persoalan pada ketersediaan air. Hal ini yang kemudian membuat masjid harus menampung air –baik air PAM atau air hujan –dalam jumlah yang banyak agar dapat dipergunakan untuk menunaikan ibadah solat. Kondisi air yang tidak terjaga kesuciannya memang tidak pernah diperhatikan secara serius oleh pengurus masjid. Bahkan terkesan diabaikan.

Politik Pembangunan

Pembangunan harusnya tidak hanya dimaknai sebagai pertumbuhan ekonomi, pengembangan sumber daya manusia, penguatan demokrasi, tetapi pembangunan juga harus dapat dimaknai dalam konteks ketersedian infrastruk ibadah bagi umat. Pada konteks ini kita membutuhkan satu kebijakan politik pembangunan yang mengarah pada peningkatan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan ibadah.

Untuk itu, ketersedian air di rumah peribadahan seperti masjid menjadi satu hal yang penting untuk diwujudkan. Sebab jika akses terhadap air di masjid sudah dapat terpenuhi dengan baik maka pengurus masjid tidak lagi harus repot-repot membuat bak-bak penampungan air yang besar dan atau menyediakan tong-tong untuk penampungan air hujan.

Namun untuk mewujudkan ini  butuh kerja keras. Apalagi dengan fakta bahwa ketersediaan air bersih di desa-desa dirasa masih sangat kurang dan itu tentunya dikarenakan arah poltik –kebijakan –pembangunan tidak pernah  berpihak pada penguatan sarana dan prasarana di desa-desa, termasuk dalam hal ini ketersediaan air untuk wudu kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s