Resolusi “Gelas-Kopi” 

Cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum, apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya.

Setiap akhir tahun, hampir semua orang akan berbicara tentang resolusi (harapan, cita-cita dan tujuan) terhadap kehidupan pada tahun berikutnya. Ya, harapan. Harapan untuk bisa hidup lebih baik, lebih sukses dan lebih sehat. Setidaknya secara singkat dapat dikatakan pemenuhan cita-cita agar hidup dapat lebih –atau menjadi –bahagia. Tentunya, defenisi bahagia di sini dapat dimaknai relatif, tergantung dari sudut pandang masing-masing pribadi.

Ada yang mengkaitkan kebahagiaan dengan segala hal yang bersifat materil seperti harta benda, jumlah uang dan lain sebagainya. Ada juga yang mengkaitkan kebahagiaan dengan status sosial seperti kedudukan, jabatan dan gelar. Ada juga yang mengkaitkan kebahagian dengan hal yang sifatnya inmaterial seperti ketenangan hati, pikiran dan jiwa. Benturan antar sudut pandangan ini yang kemudian membuat kebahagiannya menjadi satu hal yang sangat abstrak dan relatif. Karena sifatnya yang relatif maka banyak orang yang memaknainya secara berbeda. Perbedaan ini yang membuat kebahagian sulit untuk dimaknai dan dicapai.

Pada era modernism, indikator kebahagiaan selalu bermuara pada aspek yang sifatnya material. Hal ini bisa dilihat dari sepuluh indikator yang ada pada Index of Happiness (indeks kebahagiaan) yang dicanangkan untuk mengukur tingkat kesejahteraan keluarga di seluruh dunia. Dari sepuluh indikator tersebut empat diantaranya bersifat materil seperti; tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga dan kondisi rumah atau aset. Begitupun meski terdapat sepuluh indikator yang menjadi tolak ukur, namun tetap saja status pekerjaan, pendapatan rumah tangga dan kondisi rumah atau aset menjadi variabel yang sangat mempengaruhi.

Fakta tersebut bisa dilihat dari kondisi hidup kita hari ini. Untuk bisa memiliki rumah yang bagus dan aset yang banyak seseorang harus bekerja dengan kedudukan atau jabatan yang strategis. Sehingga bisa menghasilkan uang (pendapatan) untuk mengumpulkan aset (baca; rumah, tanah, kendaraan dan emas/investasi). Agar dapat memperoleh pekerjaan, seseorang harus mempunyai tingkat pendidikan yang memadai. Tentunya, untuk memperoleh fasiltas pendidikan yang layak dan bagus membutuhkan biaya yang mahal dengan membutuhkan uang yang banyak.

Itu sebabnya mengapa kebahagian selalu diidentikkan dengan kepemilikan jumlah uang yang banyak karena hanya dengan kepemilikan uang semua fasilitas untuk mendekatkan diri pada kemakmuran akan mudah didapat. Meski pada beberapa kasus, tidak semua hal bisa dibeli dengan uang. Keyakinan seperti ini biasanya dijadikan anti-thesis bagi beberapa kalangan yang dapat hidup bahagian dengan kondisi penghasilan pas-pasan. Lantas jika tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, mengapa kita harus sibuk berburu jabatan, status sosial dan penghasilan?

Masalah dan Cangkir Kopi

Jika didefenisikan, masalah dapat dimaknai dengan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan inilah yang selalu memunculkan masalah. Harapannya pada tahun 2015 bisa melunasi kredit dan mendapatkan kenaikan gaji. Tapi pada kenyataannya sampai tahun 2016, kredit belum juga lunas dan gaji juga belum naik. Tidak tercapainya harapan –sebagaimana contoh di atas –dapat memunculkan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang ditandai dengan bertambahnya beban pikiran dan memicu sters.

Satu kisah menarik tentang cangkir kopi pernah saya baca. Kisah tersebut menceritakan ada lima orang karyawan yang berkunjung ke rumah proferssor mereka semasa kuliah dahulu. Pada saat menemui sang professor kelima karyawan ini berkeluh kesah tentang kehidupan mereka yang serba sulit dan kurang. Menanggapi hal ini sang professor hanya menawarkan kelima mantan mahasiswanya ini untuk minum kopi.

Setelah menawarkan tamu-tamunya kopi, sang professor kemudian membawakan satu poci besar berisi kopi dan cangkir yang berbagai jenis, ada yang dari porselin, plastik, gelas, Kristal, gelas biasa, bahkan beberapa di antaranya gelas mahal dan beberapa lainnya sangat indah. Sang professor kemudian menawarkan mahasiswanya untuk mengambil cangkir masing-masing dan menuangkan kopinya sendiri.

Setelah semua mantan mahasiswanya mendapat secangkir kopi, sembari menebar senyum professor itu berkata: “Jika kalian perhatikan, semua cangkir yang indah dan mahal telah diambil, yang tertinggal hanyalah gelas biasa dan yang murah saja. Meskipun normal bagi diri kalian, tapi sebenarnya itulah yang menjadi sumber masalah dan stress yang kalian alami,” jelanya.

Padahal, lanjut professor tersebut, cangkir itu sendiri tidak mempengaruhi kualitas kopi. Dalam banyak kasus, itu hanya lebih mahal dan dalam beberapa kasus bahkan menyembunyikan apa yang kita minum, apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah kopi, bukan cangkirnya. Namun kalian (baca; para mahasiswa) secara sadar mengambil cangkir terbaik dan kemudian mulai memperhatikan cangkir orang lain.

Professor tersebut kemudian menjelaskan; “sekarang coba kalian perhatikan dan renungkan hal ini, kehidupan bagai kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya. Cangkir bagaikan alat untuk memegang dan mengisi kehidupan. Jenis cangkir yang kita miliki tidak menjelaskan atau juga mengganti kualitas kehidupan yang kita hidupi. Sering kali karena berkonsentrasi hanya pada cangkir, kita gagal untuk menikmati kopi (kehidupan) yang tuhan sediakan untuk kita.

Dari cerita tersebut kita dapat simpulkan bahwa masalah yang kita hadapi selama ini hanya bermuara pada cangkir (status sosial, kedudukan, jabatan dan pekerjaan) bukan pada kopi (kehidupan). Kita terkadang sangat prustasi melihat cangkir yang dimiliki oleh orang lain dan mulupakan kopi yang ada di dalam cangkir kita. Kehidupan seperti inilah yang selalu menghantui kita setiap hari.

Penutup     

Dalam islam, anjuran untuk menjadikan hidup lebih baik adalah keharusan. Hal ini bisa dilihat dalam Al-Qur’an surat Al Ashr ayat 1-3 dijelaskan bagaimana kondisi manusia sebenarnya dalam kerugiaan. Namun tidak bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, orang yang menasehati untuk kebenaran dan yang menasehati untuk kesabaraan.

Nah bagaimanapun resolusi yang kita buat pada tahun 2016, jika tidak memasukan tiga katagori di atas –beriman dan beramal soleh, nasehat dalam kebenaran dan kesabaran –maka sesungguhnya kita masih masuk dalam kelompok orang-orang yang merugi. Ingat bahwa iman, amal dan saling menasehati adalah hal yang utama dalam kehidupan. Ia seperti kopi –pada cerita di atas sebelumnya –dan tidak termasuk dalam katagori gelas. Tentu anda ingin minum kopi-kan? Bukan minum gelas kopi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s