EFEK (KONGLOMERASI) MEDIA MASA

Media merupakan bentuk jamak dari kata medium, dalam ilmu komunikasi media diartikan sebagai saluran, sarana penghubung, dan alat-alat komunikasi. Grossberg mendefenisikan media sebagai institusi yang difungsikan untuk mengembangkan kebebasan berpendapat dan menyebarkan informasi kesegala arah, yakni kepada publik dan institusi lainnya termasuk pemerintah. Oleh kerennya, media masa dalam ilmu komunikasi dimasukkan ke dalam bagian komunikasi masa, yaitu proses dimana organisasi media membuat dan menyebarkan pesan kepada khalayak banyak (publik).

Organisasi-organisasi media ini akan menyebarluaskan pesan-pesan yang akan memengaruhi dan mencerminkan kebudayaan suatu masyarakat, lalu informasi ini akan mereka hadirkan serentak pada khalayak luas yang beragam. Hal ini membuat media menjadi bagian dari salah satu institusi yang kuat di masyarakat. Dalam komunikasi masa, media masa menjadi otoritas tunggal yang menyeleksi, memproduksi pesan, dan menyampaikannya pada khalayak dalam bentuk informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. Akan tetapi, perkembangan global dewasa ini telah menjadikan media bukan hanya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan juga kontrol sosial tetapi telah menjadikan media sebagai industri atau institusi ekonomi yang terperangkap pada kepentingan kapitalisme lokal dan juga kapitalisme global.

Banyak dari para pengusaha yang menanamkan modalnya dalam bisnis media massa dengan harapan modal yang ditanam dapat kembali bahkan mendapat keuntungan, baik secara materi maupun power. Keterlibatan para pengusaha besar ini dalam dunia media massa memunculkan fenomena konglomerasi media. Dampak dari konglomerasi media kemudian muncul, baik secara positif maupun negatif. Usman Ks (2009) mencatat setidaknya terdapat dua dampak positif dari konglomerasi media. Damapak positif pertama konglomerasi mengurangi derajat kompetisi media. Usman Ks mencontohkan, Indonesia awalnya terdapat 10 stasiun televisi swasta. Kesepuluh stasiun televisi swasta itu saling bersaing memperebutkan khalayak dan pengiklan. Setalah adanya merger, akuisisi, atau kemitraan strategis, kini tinggal lima kelompok televisi yang bersaing.

Kedua kinerja ekonomi media yang diakuisisi atau demerger diharapkan lebih baik dibanding sebelumnya. Hal ini tampak dari kinerja ekonomi Trans7 (dulu TV7) lebih baik setelah diakuisisi oleh TransTV ke dalam Trans Corps. Trans7 berdasarkan data media partners asia menduduki posisi keempat dalam perolehan iklan tahun 2008, setelah RCTI, SCTV, dan TransTV.

Selain itu Usman Ks (2009) juga mencatat tentang dampak negatif yang dihasilkan dari konglomerasi media yaitu; pertama, konglomerasi pada gilirannya memicu komersialisasi media. Pemiliki media lebih mengutamakan mencari keuntungan ketimbang mendidik, memberikan informasi, atau melakukan kontrol sosial, serta menghibur. Media, contohnya seperti statius televisi berupaya meningkatkan rettingnya melalui program-program acara yang kurang mendidik; berbau seram (mistik), seksi, dan sadis (kekerasan serta kriminalitas) tanpa memikirkan kualitas. Kenyataan ini sesuai dengan pernyataan Herman dan Chomsky tentang kepemilikan media, bahwa kebutuhan media akan keuntungan secara ekonomis amat mempengaruhi content media secara keseluruhan.

Kedua, konglomerasi juga bisa menyebabkan keseragaman content atau isi atau materi program. Keseragaman ini membuat publik tidak banyak pilihan. Di bidang pemberitaan misalnya, stasiun-stasiun televisi yang mempunyai hubungan kepemilikan biasanya menerapkan sistem newsroom. Di mana berita-berita yang diperoleh newsroom akan didistribusikan ke stasiun-stasiun televisi yang berada di bawah satu payung perusahaan. Akibatnya cenderung terjadi keseragaman dalam materi berita, hanya berbeda kemasannya.

Ketiga, lemahnya fungsi kontrol jurnalistik, terutama yang menyangkut kepentingan pemilik. Dampak ketiga ini terkait erat dengan kebebasan pers. Dalam konteks kebebasan pers ini, kebebasan hanya menjadi milik mereka yang menguasai pers. Dampak ketiga ini tidak lepas dari konteks teori hegemoni Antonio Gramsci. Di mana pemilik atau konglomerat media menghegamoni, menguasai dan mendominasi media semata-mata untuk kepentingan mereka. Hal ini bisa diilustrasikan jika seorang konglomerat pemilik media tersandung kasus korupsi, maka media yang ia miliki tidak akan memberitakan kasus korupsinya itu, tetapi media yang lain akan memberitakannya. Dengan kata lain, jika makin banyak media yang dikuasai konglemerat tersebut, maka semakin lemah fungsi kontrol jurnalistik terhadap dirinya.

Dan dampak negative keempat adalah menurunya kualitas content media. Pada posisi ini, untuk mendapatkan keuntungan yang besar, tak jarang media menyusun anggaran yang timpang. Misalnya dengan mengurangi peliputan, mempekerjakan orang yang tak bisa menulis berita (tenaga kerja yang berkualitas rendah dan bergaji rendah), dan memenuhi kolom yang ada dengan materi yang tidak karuan. Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa, ekonomi politik media sangat rentan terhadap gangguan yang menyangkut kebutuhan media dan kepentingan pemilik media.

Secara sederhana media tentu membutuhkan keuntungan untuk dapat terus berjalan dan berproduksi. Untuk menghasilkan keuntungan, media harus berkompetisi dengan media lainnya untuk dapat memperebutkan khalayak (audiences) dan pengiklan. Untuk dapat menarik perhatian khalayak maka media harus mempunyai isi acara (content) yang baik. Secara kualitatif jika isi media itu baik maka akan banyak penonton yang mengkonsumsi media tersebut, dengan banyaknya penonton maka reting acara pada media tersebut akan naik dan berdampak pada banyaknya iklan yang akan masuk. Walaupun pada tataran praktis tak selamanya hubungan itu berlaku. Sebagai contoh banyak sinetron yang tidak berkualitas tetapi banyak disukai penonton dan menghasilkan banyak pemasang iklan.

Di sisi lain kepentingan pemilik modal juga sangat berpengaruh pada informasi yang dihasilkan media tersebut. Bagi pemilik media, tentu ia mempunyai posisi tawar yang tinggi untuk memberitakan sesuatu hal yang bisa mempengaruhi opini publik yang akan menguntungkan secara pribadi. Oleh karenanya, dampak yang paling ditakuti dari politik ekonomi media adalah ketika pemilik media melakukan merger atau akuisi secara besar-besaran terhadap media lain. Di mana akan terjadinya monopoli media terhadap pasar dikarenakan tidak memiliki competitor lagi. Ketiadaan competitor ini membuat perkembangan media tidak berjalan dengan baik selain itu juga akan membuat media tersebut berbuat sesuka hati dalam memberikan informasi, sehingga sering kali merugikan publik.

Akhirnya komunikasi pembangunan yang diharapkan dapat memberikan informasi kepada publik secara adil dan bebes nilai tidak akan pernah terjadi selama pemilik media (baca: konglomerat media) masih terus memikirkan kepentingan politik dan ekonomi yang akan ia dapatkan.

Pertamakali Diterbitkan di Harian Mimbar Umum

Selasa, 22 Maret 2016

2 thoughts on “EFEK (KONGLOMERASI) MEDIA MASA”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s