Hari Minggu Dilarang Sakit

pasien RSJ
RS

Sunday is a holiday begitu istilah ini dikumandangkan bagi banyak pengawai dan beberapa orang professional lainnya. Minggu memang menjadi hari libur dari segala aktivitas pekerjaan dan menikmati masa libur dengan bersantai di rumah atau jalan-jalan ke mall. Lalu bagaimana jika ada seseorang yang jatuh sakit pada hari minggu? Apakah ia harus menunggu hari senin untuk dapat pergi ke rumah sakit, klinik atau puskesmas?

Hal itulah yang saya alami ketika jatuh sakit pada hari minggu. Sakit yang diderita memang tidak masuk dalam katagori emergensi atau darurat. Tetapi tetap saja saya butuh perawatan dan kepastian akan penyakit yang saya derita. Ketika saya masuk IGD dan bertemu dengan dokter jaga. Ia pun melakukan diagnosis dengan melontarkan beberapa pertanyaan sambil memeriksa tekanan jantung dan kulit kaki saya yang tampak melepuh.

Hasilnya, ia tidak mengetahui secara pasti penyakit apa yang saya derita. Ia menyarankan saya untuk melakukan check up lebih lanjut ke dokter spesialis kulit. Saya tentu memahami kondisi ini, sebab beliau hanya dokter umum yang kebetulan mendapatkan jadwal jaga di IGD pada hari minggu. Namun yang tak habis pikir, saya baru bisa menemui dokter spesialis kulit pada esok harinya (baca: senin).

Menurut informasi yang saya himpun, tidak ada satu-pun dokter spesialis yang membuka praktik spesialis baik di rumah sakit maupun pribadi pada hari minggu. Jika-pun kita melakukan obname atau rawat inap di rumah sakit, tetap saja, dokter spesialis akan datang pada esok harinya (senin) untuk melakukan kunjungan. Alasannya tetap saja hari minggu adalah hari libur. Jika kita ingin tetap diperiksa, maka kita harus mau untuk membayar lebih untuk biaya “oprasional” dokter yang dipanggil.

Atas fakta itu saya kemudian memilih untuk menghubungi kerabat saya yang berprofesi sebagai dokter. Namun hasilnya tetap sama, ia meminta saya untuk pulang dan menemuinya esok hari. Jika-pun ingin untuk obname, ia tetap akan menemui saya pada senin siang. Sebab ia mengakui dirinya sedang libur dan tidak melakukan praktik.

Cerita Lain

Selain pada hari minggu banyak dokter spesialis yang tidak membuka praktiknya, pada hari minggu ini juga kantor asuransi banyak yang tutup. Itulah yang saya alami. Meski memiliki dua kartu asuransi –miliki pemerintah (BPJS) dan milik swasta –saya masih saja bingung harus menggunakan yang mana. Saya coba untuk menggunakan kartu peserta BPSJ, karena memilih menggunakan kartu ini maka saya harus mengambil surat rujukan ke klinik yang ditunjuk.

Tapi apa yang saya dapatkan? Klinik malah mengatakan langsung saja ke rumah sakit, sebab hari minggu BPJS tutup. Jadi percuma saja minta surat rujukan untuk menggunakan kartu BPJS tetap saja tidak bisa dan harus menunggu sampai hari senin.

Karena rasa sakit ini tidak bisa menunggu sampai hari senin maka saya putuskan untuk tetap ke rumah sakit dengan harapan bisa menggunakan kartu asuransi –swasta –milik saya pribadi. Setiba di rumah sakit, saya langsung masuk ke IGD, mendapat perawatan dengan mengecek suhu tubuh, tes tekanan darah dan terakhir diberi beberapa pertanyaan untuk kepentingan diagnosis sampai pengambilan sempel darah untuk diuji lab.

Di antara proses tahapan itu, seorang perawat bertanya apakah saya pasien umum atau asuransi. Saya menjawab saya punya asuransi swasta. Tanpa penuh pertimbangan sang perawat langsung menyarankan untuk melakukan rawat inap saja. Dalam hati saya berucap; “mungkin karena pasien asuransi swasta mereka (baca; rumah sakit) tidak takut lagi untuk menahan pasien yang ingin berobat”. Dan saya-pun resmi jadi pasien rawat inap.

Persoalan tidak berhenti sampai di situ. Ketika saya sudah masuk ke kamar dan beristirahat, tidak satu-pun perawat yang masuk memberikan penjelasan kepada saya. Baik itu tentang obat atau apa saja. Hampir tiga jam tidak ada apa-apa, padahal luka di kaki saya kembali mendenyut kencang dan membuat rasa sakit kembali terjadi.

Tak tega melihat saya yang terus meraung kesakitan, abang saya yang baru saja datang langsung memanggil perawat dan menanyakan tindakan apa yang harus mereka lakukan kepada saya. Si perawat lalu mengatakan bahwa saya belum bisa mendapatkan tindakan medis karena asuransi saya belum memberikan konfirmasi apa-pun terkait apakah saya bisa mendapatkan jasa perawatan atau tidak. Alasan pihak rumah sakit, perusahaan asuransi belum bisa dikonfirmasi karena hari minggu, sehingga mereka tidak berani untuk melakukan tindakan medis yang semuanya butuh biaya dan itu harus dikonfirmasi lebih dulu ke asuransi agar rumah sakit tau hal-hal apa saja yang dibayar oleh asuransi dan hal-hal apa saja yang dibayar oleh pasien.

Akhirnya diambil jalan tegah agar saya dapat tindakan perawatan yang cepat yaitu; pihak keluarga harus menandatangani surat perjanjian untuk bersedia menanggu biaya rumah sakit saya jika pihak asuransi tidak berkenan untuk membayarnya. Setelah surat itu ditandatangani, baru pihak rumah sakit memberikan saya obat pereda rasa sakit.

Industri Kesehatan  

Apa yang saya rasakan dari cerita di atas hanyalah satu kasus dari banyak kejadian tentang bagaimana buruknya pelayanan kesehatan di negeri ini. Rumah sakit telah berubah menjadi industri kesehatan yang tidak lagi memiliki nilai pertolongan kemanusiaan tetapi sudah berorientasi pada profit atau pencarian keuntungan. Dokter dan perawat menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan.

Dokter tidak lagi menjalankan tugasnya secara maksimal, semua dihitung berdasarkan berapa fee yang mereka terima untuk sekali kunjungan. Apalagi bagi dokter-dokter spesialis, sudah menjadi rahasia umum jika biaya konsultasi ke dokter spesialis sangatlah mahal. Itu dokter. Belum lagi jika kita bicara perilaku perawat pada praktik kekinian. Banyak yang terkadang tidak beretika. Berbicara cenderung kasar dengan pasien, acuh tak acuh kepada pertanyaan keluarga pasien yang harusnya diberikan informasi yang layak tentang pasien, sebab itu adalah hak pasien.

Kondisi ini membuat kita bertanya, kapan ya rumah sakit menjadi tempat yang ramah bagi pasiennya? Dan kapan ya pelayanan kesehatan itu bisa benar-benar dinikmati oleh masyarakat banyak? Pelayanan kesehatan yang benar-benar berpihak bagi pertolongan jiwa dan fisik pasien baik yang berada pada kelas bawah, menengah dan atas. Sebab selama ini, pelayanan kesehatan yang memadai hanya bisa dinikmati oleh mereka yang berada di kelas atas karena sanggup untuk membayar lebih.

Selain akses pelayanan kesehatan yang harus berkeadilan tanpa memandang kelas sosial, pelayanan kesehatan juga harus dapat diakses kapan-pun dan di manapun. Tanpa memandang hari libur atau tidak. Sebab penyakit bisa datang kapan saja. Kita tentu tidak bisa melarang penyakit untuk tidak datang pada hari minggu-kan? Karena itu jangan sampai istilah hari minggu dilarang sakit menjadi stereotype baru bagi buruknya pelayanan kesehatan di negeri ini.

Tulisan ini pertamakali Diterbitkan di Harian Mimbar Umum

Senin, 4 April 2016

5 thoughts on “Hari Minggu Dilarang Sakit”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s