Memperkuat Potensi Ekonomi Sampah

002 - Memperkuat Potensi Ekonomi SampahSampah adalah bagian dari keseharian hidup kita yang tidak dapat dipisahkan. Setiap hari kita memproduksi sampah, tanpa pernah berpikir kemana sampah-sampah itu akan berakhir. Rasa ketidakpedulian itu cenderung membuat kita abai akan masalah ini. Sedangkan di satu sisi, kita bisa melihat banyak orang yang menopang –perekonomian di dalam –kehidupannya dari kegiatan atau pekerjaan mengelolaan sampah. Mereka bukan hanya petugas-petugas kebersihan yang disiapkan dan digaji oleh dinas kebersihan perbulannya untuk berkerja mengangkut sampah. Tetapi selain orang-orang –yang bekerja pada dinas kebersihan –tersebut, kita juga bisa melihat bagaimana pemulung, tukang botot dan beberapa ibu rumah tangga yang asik mengumpulkan botol-botol air mineral untuk dijual sebagai penambah penghasilan harian.

Hasil Studi

Beberapa waktu lalu saya melakukan studi (baca: penelitian) tentang upaya pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampah anorganik. Studi ini saya lakukan diujung Kota Medan, tepatnya di Sicanang Belawan. Di tempat saya melakukan studi ini, kita bisa lihat bagaimana ibu rumah tangga yang sebagian juga berprofesi sebagai buruh cuci dan nelayan kecil telah menjadikan sampah sebagai sumber dan potensi ekonomi keluarga. Ini adalah sebuah fakta yang menarik, tetang bagaimana usaha perbaikan lingkungan yang berjalan seiring dengan usaha perbaikan dan peningkatan pendapatan harian keluarga miskin di pinggiran Kota Medan.

Sekarang bagi sebagaian dari  masyarakat di Sincang tersebut, aktivitas pergi ke laut tidak hanya dilakukan untuk mencari ikan saja, tetapi juga mencari sampah sisa buangan warga kota yang membuang sampah ke sungai. Hasilnya, selain dapat mebersihkan laut dari tumpukan sampah, kegiatan yang mereka lakukan ini juga berhasil menjadi tambahan ekonomi keluarga. Bahkan hasil “tangkapan sampah” jauh lebih besar dari hasil tanggapan ikan yang mereka lakukan.

Apa yang terjadi pada masyarakat Sicanang Belawan, bukanlah suatu yang datang tiba-tiba. Tetapi membutuhkan satu proses yang panjang dan melibatkan begitu banyak ator dari berbagai lapisan masyarakat. Berdirinya Bank Sampah dipemukiman warga memberikan dampak yang positif. Perilaku warga yang membuang sampah ke laut secara perlahan sudah mulai berkurang. Kini sampah tidak lagi dianggap warga sebagai barang yang tidak berguna. Tetapi sampah telah menjadi satu barang yang memiliki nilai ekonomi yang dapat ditabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Pengelolaan sampah dengan pendekatan ekonomi berbasi bank sampah ini dinilai berhasil mengurangi perilaku membuang sampah di sembarang tempat. Sebab, perubahan dari sampah menjadi uang sangat memotivasi warga untuk ikut berpartisipasi.

Budaya Pragmatisme

Budaya hitung-hitungan –atau dalam istilah lain bisa disebut sebagai bentuk budaya pragmatisme –yang masih merekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita, membuat program bank sampah dapat dengan mudah diterima dan diikuti oleh warga. Tidak salah jika sekarang kita bisa temui program-program yang dijalankan oleh pemerintah ataupun lembaga swadaya masyarakat yang tidak memiliki manfaat ekonomi secara langsung di mansyarakat akan sulit untuk dijalankan. Meski memiliki nilai ekonomi, tetapi konsep bank sampah belum sepenuhnya dapat berjalan secara maksimal di wilayah perkotaan. Sebab, hasil tabungan sampah yang tidak terlalu besar –berkisar 5 sampai 15 ribu rupiah –membuat masyarakat perkoataan tidak tertarik untuk ikut aktif bergabung menjadi nasabah bank sampah. Nominal rupiah yang relatif kecil bagi masyarakat perkoataan itu yang membuat mereka tidak tertarik untuk bergabung.

Berbeda dengan masyarakat pinggiran kota, khususnya di daerah Sicanang Belawan yang kebanyak berprofesi sebagai nelayan kecil, pembantu rumah tangga dan buruh pabrik, nominal rupiah yang relatif sedikit tersebut membuat mereka tetap tertarik untuk ikut serta menjadi nabah bank sampah. Apalagi potensi sampah yang ada lokasi tempat tinggal mereka cukup besar untuk dijadikan tabungan.

Beberapa nasabah yang diwancarai mengatakan keikutsertaan sebagai nasabah bank sampah dikarenakan hampir setiap hari mereka menemukan sampah dan menghasilkan sampah. Setidaknya sampah yang mereka hasilkan adalah sampah berbasis rumah tangga. Selama ini, sampah-sampah yang ada dilingkungan mereka tidaklah terlalu mereka perhatikan. Namun kini, dikarenakan sampah sudah memiliki nilai ekonomi dan dapat ditabung di bank sampah maka sampah yang ada kini lebih mendapatkan perhatian dan tidak lagi diperlakukan sia-sia.

Peran Bank Sampah

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa kehadiran bank sampah di lingkungan masyarakat Sicanang Belawan, setidaknya telah berhasil untuk merubah cara pandangan masyarakat terhadap sampah. Sampah yang selama ini dianggap kotor dan tidak memiliki nilai guna ternyata telah dipandang sebagai satu potensi ekonomi yang dapat mengcover kebutuhan hidup keluarga mereka sehari-hari. Meski nominal rupiah yang ditabung tidak terlalu banyak jumlahnya, namun motif ekonomi memang menjadi faktor utama yang menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi menjadi nasabah bank sampah.

Bentuk partisipasi itu berhasil membentuk perilaku masyarakat yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sampah-sampah yang mereka hasilkan setiap harinya. Baik sampah yang dihasilkan secara langsung atau sampah yang dihasilkan oleh orang lain dan berserakan disekitar lingkungan mereka. Dengan menabung sampah di bank sampah maka produksi sampah bisa dihentikan untuk tidak masuk ke TPA. Sehingga intensitas laju pertumbuhan sampah di TPA bisa direm sedini mungkin.

Tabungan-tabungan sampah yang distorkan selama ini dapat membantu masyarakat di saat terdesak dalam kebutuhan ekonomi rumah tangga. Sehingga dengan adanya model tabungan ini mereka sudah sedikit lebih aman (sefty) dalam kondisi keuangan. Meski terkadang tabungan yang meliki tidak cukup besar tetapi dapat untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendesak. Selain itu, bank sampah sendiri juga membuka kemungkinan untuk memberikan pinjaman uang semampunya kepada para nasabah. Pinjaman yang diberikan nantinya akan dicicil dengan menggunakan sampah.

Penutup

Pada hakikatnya, uang yang ada dikantong kita saat ini pada akhirnya selalu saja menghasilkan sampah dengan jalan membelanjakannya menjadi barang-barang keperluan kita sehari-hari. Sisa dari barang keperluan itulah yang kemudian menjadi sampah. Tetapi kita tidak pernah menyadari jika sisa dari barang yang tidak terpakai atau tidak berguna tersebut  dapat menghasilkan uang bagi kita.

Tetapi ironisnya, hanya karena persoalan sampah –plastik atau anorganik –yang terbuang secara terus menerus di laut, kita terkena peraturan plastik berbayar. Padahal persoalan sampah dengan jenis anorganik seperti plastik tidaklah harus diatasi dengan cara membayar plastik yang ada. Sebab hasilnya tetap sama, kita akan terus memproduksi sampah plastik. Yang terpenting kini adalah bagaimana merubah paradigma masyarakat bahwa sampah adalah uang dan uang adalah sampah.

Pada tahapan inilah dibutuhkan peran serta pemerintah –baik pusat maupun daerah –dan perusahaan penghasil produk-produk berbahan dasar plastik agar dapat bekerjasama mengatasi persoalan sampah. Bukankan pada pasal 5 dan 6 UU No. 18 Thn 2008 –Tentang Pengelolaan Sampah –telah dijelaskan tentang bagaimana penyelenggaraan pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan? Dan bukankah perusahaan juga mempunyai dana CSR sebagai bentuk pertanggung jawaban terhadap keberlanjutan lingkungan?

Tulisan pertamakali diterbitkan di Harian Waspada 

Tanggal 5 April 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s