Negeri Serba Darurat

004 - Negeri Serba DaruratTragedi yang menimpa gadis berusia 14 tahun bernama Yuyun beberapa waktu lalu di Bengkulu menyita banyak perhatian, baik dikalangan masyarakat, pemerintah dan bahkan dunia internasional. Media-media di Australia, India, Inggris, Amerika dan Kanada menjadikan kasus pemerkosaan bergilir dan pembuhan yang dilakukan oleh empat belas anak dan remaja –yang masih pelajar –terhadap Yuyun sebagai berita utama.

Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla-pun tak mau ketinggalan untuk ikut mengecam keras tragedi yang menimpa Yuyun ini. Presiden melalui akun twitternya bahkan meminta agar pelaku ditangkap secepatnya dan dihukum seberat-beratnya. Di akhir twitt-nya Jokowi meminta agar perempuan dan anak-anak harus dilindungi dari kekerasan.

Apa yang diminta oleh presiden melalui akun twitter-nya agar melindungi perempuan dan anak dari kekerasan tentunya patut untuk didukung. Apalagi catatan dari Komnas Perempuan pada tahun 2016 menunjukkan kasus kekerasan seksual pada perempuan berada di peringkat kedua dengan jumlah kasus mencapai 2.399 atau sekitar 72 persen sedangkan pencabulan mencapai 601 kasus atau 18 persen.

Selain itu, untuk data kasus kekerasan terhadap anak yang dicatat oleh lembaga perlindungan anak sepanjang tahun 2010-2014 tercatat dari 21,6 juta kasus pelanggaran hak anak, 58 persen masuk dalam katagori sebagai kejahatan seksual. Sisanya, berupa kekerasan fisik, penelantaran dan lain sebagainya. Dengan adanya data-data tersebut di atas, membuat Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa Indonesia saat ini berstatus darurat kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Penetapan status darurat ini menjadi yang kesekian kalinya dilakukan oleh pemerintah. Sebelumnya pemerintah juga menetapkan negeri ini dalam status darurat terhadap narkoba, pornografi dan korupsi. Dengan banyaknya penetapan status darurat tentunya membuat kita bertanya-tanya, sudah “parah” itukah negeri ini? Adakah yang salah dengan pola hubungan antar individu di negari ini? Sehingga setiap kali masalah yang hadir selalu saja berefek seperti “gunung es” yang hanya tampak sedikit di permukaan tetapi sangat besar dan mengakar di lapisan bawah.

Saat ini hampir semua kehidupan sosial yang menghubungkan pola-pola interaksi di dalam masyarakat terasa menjadi begitu menakutkan. Anak-anak tidak lagi mendapatkan lingkungan sosial yang nyaman, sebab hampir setiap aktifitas keseharian mereka berpotensi untuk menimbulkan tindakan kekerasan, pemerkosaan dan trafficking.

Begitu juga di kalangan perempuan, hampir setiap hari kita bisa menemukan berita-berita –di koran kriminal –terkait masalah pemerkosaan dan KDRT yang dialami oleh perempuan. Sedangkan dikalangan anak dan remaja laki-laki, efek peredaran narkotika, miras dan video/film/situs porno membuat perilaku anak dan remaja laki-laki menjadi begitu tidak terkontrol.

Ironisnya, hampir semua analisis pengamat –baik itu pengamat sosial, psikologi dan kriminologi –selalu saja menempatkan keluarga sebagai sumber munculnya masalah sosial di tengah masyarkat. Keluarga telah dianggap disfungsi dalam menjalankan perannya di antara struktur sosial lainya. Tetapi kita tidak pernah menyelidiki mengapa keluarga sebagai satu bagian dari struktur sosial yang memiliki fungsi penting dalam proses sosial menjadi tidak berfungsi lagi?

Pertanyaan itulah yang penting untuk kita jawab secara bersama-sama, sehingga dalam mengatasi persoalan sosial yang begitu rumit dan beragam ini tidak lagi hanya diselesaikan pada tataran hilir saja dengan memberikan sanksi dan hukuman kepada para terdakwa. Jika pola-pola seperti ini masih terus dipertahankan maka persoalan sosial yang ada di tengah masyarakat –baik itu persoalan kekerasan terhadap anak dan perempuan, korupsi, pornografi dan narkotika –tidak akan pernah selesai.

Keluarga Kita

Fenomena sosial yang terjadi di tengah masyarakat tidaklah muncul secara tunggal. Ia selalu memiliki kaitan dengan kondisi atau fenomena-fenomena lainnya. Sebagai fenomena sosial, kekerasan terhadap anak dan perempuan tentunya tidak hadir secara tiba-tiba (tunggal), kehadirannya tentu dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari faktor pengaruh teman sebaya, lingkungan sosial yang tidak terkontrol dan tidak berperannya keluarga secara utuh.

Fungsi keluarga pada masyarakat pedesaan dan perkotaan dinilai sudah mulai berkurang saat ini. Rutinitas kedua orang tua –ayah dan ibu –yang banyak menghabiskan waktu bekerja pada sektor publik membuat fungsi pendidikan di dalam keluarga semakin berkurang. Selain itu, fungsi afektif yang merupakan sarana untuk mempertahankan kestabilan kepribadian dan pemenuhan kebutuhan psikologi dan spiritual bagi setiap anggota keluarga saat ini telah luntur.

Naiknya kebutuhan barang pokok memaksa banyak keluarga untuk meningkatkan pendapat ekonomi. Pendapatan ekonomi dinilai menjadi standart yang paling penting untuk dapat memenuhi segala kebutuhan fisik atau materi bagi setiap anggota keluarga. Efeknya, kini, keluarga hanya menjadi tempat penyaluran kebutuhan biologi (seks) dan pemenuhan kebutuhan fisik –materi –semata. Itulah realitas dari keluarga kita hari ini.

Berkurangnya fungsi afeksi dan pendidikan inilah yang kemudian membuat anak mencari tempat baru (kelompok) yang ia anggap nyaman dengan dirinya dan dapat menyalurkan eksistensinya. Penyaluran eksistensi tersebut sangat beragam, mulai dari mabuk dan sakau bersama (baik yang dihasilkan dari efek miras, nyabu, ganja atau bahkan efek lem), nongkrong di sudut-sudut gang atau di tempat sunyi, dan nonton video/film porn secara bersama dengan kelompok yang mereka bentuk.

Ini adalah fakta dari kehidupan sosial anak dan remaja kita hari ini. Kondisi ini makin diperparah dengan sikap acuh tak acuh dari keluarga –yang pada posisi ini diwakili oleh ayah, ibu, dan saudara kandung –sehingga aktifitas sosial mereka sehari-hari tidak lagi dapat terkontrol dengan baik, masyarakat juga melakukan hal yang sama dnegan bersikap apriori (masa bodoh). Fakta ini tidak akan bisa kita bantah, karena hal ini menjadi realitas sehari-hari yang sangat mudah kita temui.

Variabel Lain

Selain disfungsi keluarga, variabel lain yang bisa menjelaskan munculnya fenomena pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak dan perempuan adalah berkembangnya budaya popular yang tidak dapat dibendung oleh nilai dan budaya lokal sehingga memunculkan efek geger budaya.

Jika kita mau jujur, sesungguhnya perilaku anak dan remaja kita saat ini –baik laki-laki dan perempuan –sudah di luar batas nilai dan moral masyarakat Indonesia. Saat ini kita sangat mudah menemukan hotel-hotel yang bisa dijadikan tempat mesum bagi anak-anak atau remaja. Tidak hanya hotel, akses mereka terhadap diskotik –yang kini mulai menjamur –juga semakin mudah. Sehingga perilaku-perilaku amoral –seperti berhubungan seks di luar nikah –sangat mudah terjadi.

Hanya dengan mengatas namakan “cinta”, pelajar-pelajar kita baik yang masih anak-anak dan remaja dengan mudah melepaskan keperawanannya dan keperjakaannya. Itu jika mereka punya pacar, jika tidak, mereka bisa memakai jasa pekerja seks komersial (PSK) yang bisa dibayar sesuai dengan kemampuan kantong masing-masing. Dan PSK-PSK ini sangat mudah untuk ditemui, baik dijalanan, diskotik atau bahkan di sekolah dan di kampus-kampus. Mereka bekerja dengan jaringan yang luas. Tak jarang, transaksinya juga dilakukan secara online dengan bantuan media sosial. Kondisi ekonomi selalu menjadi faktor dominan kemunculan PSK. Sayangnya, kebanyakan dari PSK itu kini adalah mereka yang berstatus ABG (baca: anak baru gede). Dan itu mereka lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan material agar tampak lebih glamor, ironis bukan?

Dengan realiatas sosial anak dan remaja tersebut, kemudian muncul pertanyaan bagaimana dengan anak atau remaja yang tidak memiliki pacar dan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mengakses atau memakai jasa PSK? Sedangkan akses anak dan remaja saat ini terhadap pornografi sangatlah massif. Asumsinya, secara logika, hasrat seksual yang tumbuh tersebutlah kemudian disalurkan dengan aktifitas pelecahan seksual atau pemerkosaan yang dilakukan terhadap korban yang dianggap lemah.

Anda boleh saja menolak asumsi yang saya utarakan di atas. Tetapi yang perlu diingat keterikatan atau pengaruh dari budaya popular –seperti perilaku seks bebas –tersebut (sebagai satu variable) yang tidak bisa diakses oleh semua anak dan remaja tentu akan disalurkan dengan cara yang dianggap mudah untuk diakses yaitu dengan jalan pemerkosaan.

Penutup

Sesungguhnya, tidak hanya faktor keluarga yang disfungsi secara sosial, tetapi kondisi sosial anak dan remaja yang sudah jauh dari batas nilai dan norma bangsa menjadi faktor pendukung yang sangat determinan terhadap munculnya persoalan pelecehan seksual dan kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Pertumbuhan diskotik dan hotel-hotel melati serta mudahnya akses terhadap video dan film porno harusnya bisa diatasi dengan langkah yang kongret. Selain kembali memperkuat fungsi keluarga sebagai lembaga informal yang menyumbang peran besar terhadap perubahan sosial di tengah masyarakat, kita juga harus bisa mengawasi pertumbuhan tempat-tempat yang dijadikan lokasi cabul secara legal. Akhirnya, revolusi mental seperti yang didengung-dengungkan oleh Presiden Joko Widodo harus wujudkan segera mungkin, jangan sampai lebel negeri serba darurat melekat pada diri bangsa kita dan anda tentu tidak menginginkan itukan?

Pertamakali Diterbitkan di Harian Waspada,

Jum’at 13 Mei 2016. Hlm B9

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s