Rumah Untuk Rakyat

Home, dalam pengertian bahasa Indonesia sering diartikan sebagai rumah. Pada cakupan yang lebih luas, rumah dapat dimaknai sebagai bagunan yang berfungsi untuk tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga. Tidak hanya itu, rumah juga bisa diartikan sebagai tempat melepas lelah, tempat bergaul dan membina rasa kekeluargaan di antara anggota keluarga, tempat berlindungnya keluarga dan juga dapat dijadikan sebagai lambang status sosial seseorang.

Jika merujuk pada pengertian World Health Organization (WHO), rumah adalah struktur fisik di mana orang menggunakannya untuk tempat berlindung. Di mana lingkungan dari struktur tersebut berguna untuk kesehatan jasmani dan rohani keluarga. Dari berbagai defenisi dan pengertian di atas tampak bagaimana rumah memiliki makna yang komperhensif. Ia tidak hanya sekedar diartikan sebagai bagunan fisik saja tetapi lebih dari itu.

Namun untuk dapat memiliki rumah secara pribadi bukanlah satu hal yang mudah untuk diwujudkan. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), pada akhir 2015 lalu melaporkan sedikitnya 25 juta keluarga tidak mampu untuk membeli rumah. Jika diasumsikan satu keluarga terdiri dari 4 orang, maka ada sekitar 100 juta orang atau setara dengan 40 persen dari 250 juta orang penduduk indonesia yang tidak mampu untuk membeli rumah. Data itu dengan jelas menunjukkan bahwa ada 25 juta keluarga yang memiliki status homeless.

Homeless & Tunawisma

Tentunya status homeless tersebut dapat dilihat dari dua dimensi. Pertama, homeless dalam artian tidak mampu membeli atau memiliki rumah tetapi mampu untuk menyewa atau tinggal di rumah keluarga. Sedangkan yang kedua adalah homeless dalam artian tunawisma, yaitu mereka yang hidup menggelandang karena tidak memiliki rumah sama sekali.

Untuk kasus homeless yang pertama yaitu ketidakmampuan membeli rumah atau memiliki rumah dipengaruhi oleh beberapa aspek antara lain adalah tidak memiliki dana yang cukup dan terganjal persyaratan pengajuan kredit perumahan rakyat (KPR). Kedua hal ini menjadi faktor penghambat utama masyarakat sulit mendapatkan rumah. Kondisi keuangan atau dana memang manjadi faktor yang paling mempengaruhi kondisi ini.

Banyak masyarakat yang ingin membeli rumah tapi tidak mempunyai down payment (baca; uang muka), jikapun sudah mempunyai uang muka maka yang dipikirkan selanjutnya adalah cicilan pembayaran setiap bulannya. Itu semua membutuhkan uang yang tidak sedikit. Fakta ini bisa dari mahalnya harga rumah, baik yang ada diperkotaan ataupun pinggiran perkotaan. Sangat sulit kita menemukan harga rumah dibawah 200 juta rupiah. Jika-pun ada maka kondisinya masih membutuhkan perawatan lagi. Atau aksesnya sangat jauh dari pinggiran kota.

Selain itu, faktor lain yang membuat masyarakat sulit memiliki rumah adalah sulit akses terhadap pelayanan kredit perumahan rakyat (KPR). Biasanya persoalan ini muncul dikarenakan banyak masyarakat yang tidak memiliki sumber penghasilan tetap. Misalnya, seorang pedagang kaki lima yang mempunyai penghasilan enam juta perbulan atau pekerja profsional yang memiliki penghasilan lima juta rupiah setiap bulan, mereka akan mendapat kesulitan dalam mengakses KPR karena masalah status pendapatan yang tidak stabil.

Jika masyarakat yang mempunyai pendapatan saja masih sulit untuk memiliki rumah, bagaimana dengan mereka yang pendapatannya di bawah rata-rata atau sama sekali tidak memiliki pendapatan yang wajar seperti pengemis dan gelandangan? Tentunya jumlah mereka jauh lebih banyak, sebab angka kemiskinan masih sangat tinggi. Berdasarkan data dari Pusdatin Kemensos pada tahun 2012 tercatat jumlah gelandangan sebanyak 18.599 dan pengemis 178.262.  Ini adalah data pada tahun 2012, dan kita belum menemukan data baru terkait hal ini.

Itu sebabnya mengapa kini kita sangat mudah menemukan “manusia gerobak” dibeberapa kota besar di Indonesia. Mereka harus rela tinggal di atas gerobak becak sorong dan terus berkeling di perkotaan. Fenomena lain yang bisa dilihat dari minimnya akses terhadap fasilitas rumah adalah munculnya pemukiman-pemukiman penduduk yang berada pada jalur hijau seperti bantaran sungai, pinggiran rel kereta api dan bahkan yang lebih ekstrim-nya lagi tinggal di bawah kolong jembatan.

Oleh karenanya pemerintah harus mendorong upaya pertumbuhan perumahan bagi masyarakat, baik yang berstatus homeless dan atau yang berstatus tunawisma. Untuk yang memiliki status homeless pemerintah harus mampu menyediakan perumahan murah yang dapat dijangkau dengan kemudahan akses dalam kepengurusan KPR.

Sedangkan untuk yang memiliki status tunawisma, pemerintah harus mampu untuk menyediakan rumah yang layak huni bagi mereka, baik dalam konsep rumah susun, panti atau desa khusus tunawisma yang di dalamnya dibangun rumah-rumah khusus untuk tunawisma sehingga tidak lagi berkeliaran di perkotaan. Desa tersebut harus dibangun dengan pendekatan pemberdayaan, sehingga tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi masyarakat juga mendapatkan pelatihan keterampilan hidup sehingga dapat bekerja dan berusaha secara mandiri.

Penutup

Rumah pada hakekatnya merupakan kebutuhan dasar (basic needs) bagi manusia selain sandang dan pangan. Maka upaya penyediaan perumahan lengkap dengan sarana dan prasarana permukimannya, semestinya tidak sekedar untuk mencapai target secara kuantitatif dengan banyaknya rumah yang tersedia tetapi juga harus dibarengi dengan pencapaian sasaran secara kualitatif yaitu; mutu dan kualitas rumah sebagai hunian.

Artinya bahwa pemenuhan kebutuhan akan perumahan dan permukiman yang layak, akan dapat meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Kemauan pemerintah secara politik menjadi kunci penting untuk dapat mengatasi permasalahan ini. Jangan sampai pertumbuhan penduduk 20 tahun ke depan tidak dibarengi dengan proyeksi pembangunan rumah yang maksimal. Bukankah pemerintah bertanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan dasar kita?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s