Anomali Ekonomi Ramadhan

Kenaikan harga yang diikuti dengan laju inflasi selalu menjadi satu fenomena ekonomi menjelang bulan ramadhan. Dalam lima tahun terakhir, laju inflasi di bulan ramadhan rata-rata bekisar 0,8 sampai 0,9 persen. Hal ini bisa dilihat dari inflasi pada tahun 2011 sebesar (0,93%). 2012 sebesar (0,7%), 2013 sebesar (3,29%), serta pada tahun 2014 dan 2015 mencapai (0,93%). Namun sukurnya, angka inflasi yang terbilang tinggi tersebut tidak terulang pada ramadhan tahun ini. Tercatat laju inflasi pada bulan Mei 2016 berkisar pada 0,24 persen.

Begitupun angka inflasi pada bulan Mei sebesar 0,24 persen tersebut tidak dapat menjadi patokan keberhasilan pemerintah dalam mengkontrol laju inflasi menjelang bulan ramadhan. Sebab dalam minggu-minggu terakhir di bulan Mei, kita sudah disibukkan dengan berita-berita kenaikan harga pangan, mulai dari bawang merah, telur ayam, daging ayam dan daging sapi.

Jika harga-harga kebutuhan pokok tersebut tidak dapat direm oleh pemerintah dengan berbagai program alternative maka trend inflasi pada saat ramadhan dan idul fitri akan tetap terjadi dan tentunya masyarakat kelas menengah dan bawah –baik yang muslim dan non muslim –akan merasakan beban ekonomi yang tinggi. khususnya dalam penenuhan kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Anomali

Mengapa setiap kali menjelang bulan Ramadhan harga kebutuhan pokok selalu mengalami kenaikan? Pertanyaan ini mungkin bisa dijawab dengan dalih; tingginya permintaan pasar terhadap kebutuhan pokok mempengaruhi harga atas kebutuhan pokok tersebut. Sehingga hukum ekonomi pasar menjadi berlaku, di mana harga akan mengalami lonjakan kenaikan apabila permintaan berubah atau meningkat. Namun, pertanyaan selanjutnya yang harus diajukan adalah benarkah tingkat permintaan akan kebutuhan pokok mengalami peningkatan setiap kali bulan ramadhan hadir?

Pertanyaan ini bisa dijawab dengan dua asumsi. Pertama, benar permintaan kebutuhan barang pokok mengalami kenaikan dikarenakan masyarakat mengalami peningkatan pendapatan dengan adanya penghasilan tambahan berupa tunjangan hari raya (THR) dan “uang daging” yang selalu diberikan institusi atau pimpinan setiap kali menyambut bulan ramadhan. Selain itu, sumber lain yang biasanya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat adalah pencairan dana tabungan dan atau penggunaan jasa pengadaian untuk memenuhi kebutuhan ramadhan dan hari raya idul fitri. Jika asumsi pertama ini benar, maka kita dapat simpulkan bahwa budaya konsumtif memiliki pengaruh yang dominan terhadap munculnya fenomena inflasi dan kenaikan harga setiap bulan Ramadhan.

Asumsi kedua, tidak ada peningkatan permintaan kebutuhan pokok pada saat menjelang ramadhan dan atau idul fitri. Tetapi yang terjadi adalah spekulasi harga oleh para produsen atau agen dan para pedagang besar. Kondisi ini bisa dijelaskan dengan teori ekpektasi dalam hubungan produsen dan konsumen. Di mana produsen dan pedagang memiliki harapan bahwa menjelang lebaran harga kebutuhan pokok akan naik. Dan di satu sisi konsumen juga memiliki harapan akan membeli berapapun harga kebutuhan pokok yang naik. Sehingga ketika dua harapan ini bertemu dan sama-sama berakumulasi maka harga dipastikan naik. Jadi tampak bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok sebenaranya terjadi dikarenakan adanya kesepakatan tidak langsung antara konsumen dan produsen.

Ekpektasi yang dihasilkan dari hubunngan produsen dan konsumen melahirkan spekulasi, kebutuhan pokok dibuat seolah-olah langka, sehingga konsumen merasa perlu menyetok barang kebutuhan pokok tersebut. Efeknya, konsumen akan membeli barang lebih banyak untuk menjadi stok kebutuhan di rumah.  Kondisi inilah yang selalu terjadi setiap kali jelang bulan suci ramadhan dan juga hari raya idul fitri. Ironisnya, pemerintah tidak bisa mengkontrol aktifitas-aktifitas pasar tersebut secara baik, sehingga umat islam –khususnya kalangan menengah bawah –selalu mengalami beban ekonomi yang cukup berat ketika menyambut bulan ramadhan dan tentunya hal ini sangat merugikan.

Konsumsi dan Kemiskinan

Angus Deaton, Profesor Ekonomi dari Princeton University pemenang Nobel Ekonomi Tahun 2015, memiliki dasar pemikiran yang menarik tentang pola konsumsi individu. Baginya, konsumsi barang dan jasa yang dilakukan oleh individu merupakan penentu fundamental dalam menetapkan kesejahteraan dan tingkat kemiskinan. Oleh karenanya, peran konsumsi sangat sentral pada perekonomian, khususnya untuk mengukur tingkat resesi, kemiskinan dan kemakmuran. Inti pemikirannya adalah konsumsi akan tetap berjalan jika harga produk terjangkau, meski tanpa adanya penambahan pendapatan.

Apa yang diutarakan oleh Deaton dengan menggunakan dasar konsumsi sebagai pisau analisisnya berhasil membantah pendapat ekonom pendahulunya seperti Milton Friedman dan Franco Modigliani yang menyatakan perilaku konsumsi masyarakat bergantung kepada pendapatan. Semakin rendah pendapatan maka semakin rendah konsumsi seseorang.

Kini, pendapat Deaton tentang pola konsumsi ini harusnya dapat dijadikan pemerintah sebagai dasar pengambilan kebijakan, khususnya pada bidang pangan dan kebutuhan pokok jelang dan selama bulan ramadhan. Sebab semakin tinggi harga kebutuhan pokok di pasar akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi individu yang berada pada kelas bawah. Jika tingkat konsumsi rendah, maka tingkat kalori dan nutrisi dasar tidak akan dapat terpenuhi dan hal ini akan sangat mempengaruhi kesiapan fisik umat islam dalam menjalankan ibadah puasa. Bagaimana puasa bisa dijalankan secara baik jika asupan kalori dan nutrisi tidak terpenuhi dikarenakan naiknya harga kebutuhan pokok?

Penutup

Tingkat pendapatan memang tidak pernah lepas dari indikator kemiskinan. Begitu juga dengan tingkat konsumsi. Dua hal ini memang seolah berlaku linier. Orang yang memiliki pendapatan yang tinggi pada umumnya dapat dengan mudah mengakses pemenuhan kebutuhan pokok. Sedangkan bagi mereka yang memiliki tingkat pendapatan yang pas-pasan (seperti kelompok kelas menengah bawah) sangat rentan terhadap segala bentuk kenaikan kebutuhan kebutuhan pokok.

Ironisnya, kondisi ekonomi umat islam hari ini masih banyak yang berada pada kelas menengah bawah. Hal ini bisa dijelaskan dengan asumsi 88 persen orang terkaya di Indonesia adalah mereka yang bukan beragama Islam. Sehingga setiap kali kenaikan kebutuhan barang pokok –khususnya menjelang ramadhan dan idul fitri –akan sangat teras oleh umat islam.

Oleh karenanya dibutuhkan peran serta pemerintah yang kuat untuk bisa menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Jangan sampai kejadian yang sama terus saja berulang-ulang setiap kali ramadhan dan idul fitri hadir. Bukankah pemerintah punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya?

Pertamakali Diterbitkan di Harian Mimbar Umum 

Rabu, 6 Juni 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s